Rabu, 15 Februari 2012

sinopsis city hunter episode 20

Dalam keadaan sekarat Young Joo meminta Yoon Sung untuk memaafkan ayahnya dan juga mengatakan maaf kepada Yoon Sung dan setelah itu Young Joo pun menghembuskan nafas terakhirnya (sediiiiiiiiiiiiiiiiiiiihhhhhhhhhhhhhh, ga rela Young Joo meninggal~aida rf). Yoon Sung sangat terkejut melihat Young Joo dan dengan gemetar Yoon Sung berusaha membangunkan Young Joo dengan terus menerus berteriak memanggil nama Young Joo. Dengan perasaan yang sedih dan penuh dendam akhirnya Yoon Sung meninggalkan Young Joo dan mengambil handphone Young Joo.
Sementara itu di rumah sakit ternyata ayah Young Joo tiba-tiba bisa menggerakkan tangannya dan secara perlahan-lahan akhirnya membuka mata dan sadar dari komanya (aduh appa belum tahu yak kalau Young Joo oppa sudah meninggal hiks).
Yoon Sung melarikan mobilnya dengan cepat. Yoon Sung memeriksa handphone Young Joo dan menemukan sms yang dikirim Jin Pyo supaya Young Joo datang ke tempat persembunyian Jae Man. Yoon Sung yang sudah mengetahui yang mengirim sms adalah Jin Pyo lansung menghubungi Jin Pyo.
“Ayah, kenapa kau melakukannya? Kenapa ayah bohong dan memberitahu Young Joo untuk datang ke sana?”tanya Yoon Sung.
Jin Pyo pun menjawab “Jaksa Republik Korea ingin tahu kebenarannya. Aku hanya ingin membantunya”.

Dengan marah Yoon Sung pun mengatakan kalau Young Joo telah meninggal dan yang telah membunuh Young Joo adalah Jin Pyo sendiri. Jin Pyo tak mau merasa kalah dengan mengatakan bahkan orang yang tidak berdosa bisa meninggal kapan saja seperti teman-teman seperjuangan Jin Pyo dulu dan Jin Pyo pun memutuskan kalau Jae Man harus mati ditangan Jin Pyo.
Jae Man sudah sampai di pelabuhan dan cepat-cepat menuju kapal yang akan dinaikinya. Tetapi sebelum sampai di kapal, Jae Man sudah ditunggu oleh Jin Pyo. Jae Man pun terkejut melihat Jin Pyo di depannya. Jae Man pun menyuruh anak buahnya untuk menyerang Jin Pyo tetapi dengan sangat mudah di lumpuhkan oleh Jin Pyo. Jin Pyo mendekati Jae Man yang ternyata sudah tahu kalau Jae Man akan melarikan diri.
Jae Man mengatakan kalau Jin Pyo telah menghancurkan hidupnya dan bertanya apa yang diinginkan Jin Pyo sebenarnya. Dengan santai dan dengan dinginnya Jin Pyo mengatakan kalau Jin Pyo hanya ingin nyawa Jae Man. Mendengar kata-kata Jin Pyo, Jae Man langsung ketakutan dan berusaha melarikan diri. Jae Man naik ke atas kapal tetapi ternyata Jin Pyo sudah berada di atas kapal.
Jae Man tambah terkejut dan melarikan diri lagi tetapi Jin Pyo perlahan-lahan mengikuti Jae Man hingga Jae Man jatuh di pinggir kapal. Jae Man memohon supaya Jin Pyo tidak membunuhnya tetapi dengan tanpa belas kasihan Jin Pyo langsung menebas tubuh Jae Man hingga tak bernyawa lagi.
Yoon Sung pun sampai di pelabuhan tempat Jae Man dibunuh. Yoon Sung berkeliling mencari Jae Man dan menemukan dua orang pengawal Jae Man sudah terkapar. Yoon Sung terkejut melihatnya dan ketika menoleh ke kiri Yoon Sung melihat mayat Jae Man dan langsung menghampiri mayat Jae Man. Melihat Jae Man yang sudah tak bernyawa, Yoon Sung mengepalkan tangannya dan berteriak jengkel dan marah.
Di dalam mobilnya, Yoo Sung termenung sambil mengingat kata-kata Young Joo yang memberitahukan tempat dokumen rahasia dan meminta Yoon Sung untuk membeberkan isi dokumen rahasia itu.
Yoon Sung pun membuka satu persatu file dan mengingat ketika menangkap orang-orang yan berkaitan dengan insiden tahun 1983 mulai dari Lee Kyun Wan, Seo Yong Hak, Kim Jon Shik dan Jae Man.
Begitu melihat nama terakhir, Yoon Sung sangat terkejut karena nama itu adalah nama presiden dan tak lain adalah ayah Yoon Sung sendiri. Dan pada akhinya, beginilah yang terjadi kata Yoon Sung. Yoon Sung keluar dari mobilnya dan terlihat sangat lelah dan menghembuskan nafas dengan berat.
Yoon Sung datang ke rumah Jin Pyo saat Jin Pyo sedang membersihkan noda darah Jae Man disenjata yang dipakai Jin Pyo untuk membunuh Jae Man.

Melihat Jin Pyo membersihkan noda darah, Yoon Sung mengatakan apakah Jin Pyo telah membersihkan noda darah itu dengan baik dan Jin Pyo diam dan terus membersihkan senjatanya. Yoon Sung pun mengatakan kalau seharusnya Jin Pyo juga membersihkan darah dari Young Joo.
Jin Pyo mengatakan kalau yang membunuh Young Joo adalah Jae Man. Yoon Sung mengatakan kalau Jin Pyo sama saja dengan Jae Man. Jin Pyo sangat marah dan tidak terima kalau dirinya disamakan dengan Jae Man lalu menodongkan senjatanya ke arah Yoon Sung. Yoon Sung tak gentar dan mengatakan kalau orang terakhir yang dihukum adalah Presiden. Jin Pyo terlihat terkejut mendengarnya.
“Balas dendam yang kejam yang anda maksud adalah membunuh ayah kandungku sendiri dan selama 28 tahun bersenang-senang dengan mengambilku dari ibuku dan membuat aku percaya orang lain adalah ayah kandungku dan sekarang anda memberitahuku untuk membalas dendam pada ayah kandungku sendiri? Balas dendam itu, aku rasa aku tidak bisa melakukannya”kata Yoon Sung.
Jin Pyo menurunkan senjatanya dan bertanya apakah semua itu karena presiden adalah ayah kandung Yoon Sung. Yoon Sung mengatakan tidak karena setelah dekat dengan Presiden Yoon Sung merasa bahwa Presiden adalah seorang presiden yang menakjubkan. Jin Pyo pun mengatakan kalau presiden yang menakjubkan yang dikatakan Yoon Sung bukanlah Presiden yang mendapatkan kedudukannya dengan bersih dan Jin Pyo ingin melihat ekspresi Yoon Sung ketika mengetahui siapa sebenarnya Presiden tetapi Yoon Sung mengatakan jangan dan apa yang diinginkan Jin Pyo tidak akan terjadi. Yoon Sung pun meninggalkan Jin Pyo yang tiba-tiba melepas senjatanya ke meja.
Akhirnya Yong Hak mengatakan kepada wartawan akan mengungkapkan kebenaran dan target berikut City Hunter adalah Presiden karena insiden yang terjadi tahun 1983 adalah atas perintah Presiden dan secara pribadi merencanakannya. Wartawan pun ribut mendengar berita tersebut. Presiden pun mengadakan konprensi press mendadak untuk mengklarifikasi apa yang sudah dikatakan Yong Hak tentang orang yang merencanakan insiden 1983. Presiden terkejut ketika seorang wartawan memberitahukan kalau Young Joo telah meninggal.
Young Sung dan Jin Pyo melihat konprensi press. Anak buah Jin Pyo terkejut mendengar kalau Presiden yang telah merencanakan semuanya. Anak buah Jin Pyo bertanya untuk menurunkan presiden apakah Jin Pyo sengaja menyebarkan gosip bahwa presiden menyuap supaya Presiden terlihat korupsi. Jin Pyo bertanya apakah anak buahnya takut tapi anak buah Jin Pyo hanya menginginkan kehormatan kakaknya kembali karena mengguncang Negara bukanlah yang diinginkan anak buah Jin Pyo,ia hanya menginginkan kehormatan semua prajurit yang meninggal kembali dan meminta Jin Pyo untuk mengakhiri semuanya. Jin Pyo hanya diam mendengar semua yang dikatakan anak buahnya.
Dengan tangan gemetar, Soo Hee mengambil sebuah bunga untuk diletakkan di foto mendiang Young Joo. Tak sanggup Soo Hee menahan kesedihan, dan jatuh terduduk. menangisi kepergian orang yang dicintainya.
Ayah Young Joo yang telah sadar, hanya bisa terduduk di kursi roda dan menaggis sesegukan.
Tak jauh beda, staf dan atasan Young Joo pun larut dalam kesedihan. Atasan Young Joo begitu menyesali tindakan Young Joo yang selalu gegabah melakukan investigasi sendiri dan tidak mengindahkan kata-kata atasannya.
Semua serentak berdiri saat melihat sang Presiden datang berkabung. Na Na yang ikut mengawal Presiden juga terlihat syok melihat foto Young Joo, berusaha keras untuk menahan air mata. Presiden menatap ayah Young Joo dengan tatapan simpati lalu pergi.
Langkahnya terhenti saat bertemu dengan Yoon Sung yang baru saja datang. Staf Young Joo yang tidak terima kematian Young Joo datang mendekati Yoon Sung dengan kemarahan.
“City Hunter adalah kau! Karena kau kami menjadi seperti ini, pergi pembunuh! Kami pasti akan menangkapmu!”teriak staf Young Joo kalut.
Yoon Sung hanya berdiam diri, air mata Na Na tak tertahankan lagi.
“Aku datang hanya karena merasa telah kehilangan jaksa yang hebat, sepertinya aku harus pergi”gumamnya. Yoon Sung memberi hormat kepada Presiden lalu pergi.
Anak buah Jin Pyo menginformasikan kepada Yoon Sung bahwa saat pemilihan Presiden, Hae Won Grop disinyalir telah menggelontorkan sejumlah dana besar yang masuk untuk mendukung Presiden Eung Chan. Dana kampanye gelap.
Di ruangannya, Presiden merenungi kata-kata staf Young Joo dipersemayaman tadi. Mungkin memikirkan kata-kata yang menyebutkan City Hunter adalah Yoon Sung.
Presiden Eung Chan melihat berkas data Yoon Sung yang kini bekerja di Bagian Komunikasi Nasional Blue House, teringat pertama kali bertemu dengannya. Akan kasus pembobolan alamat IP Blue House saat kasus Lee Kyung Hwan.
“Dan ketika di perpustakaan, dia mencari album pengawal kepresidenan tahun 1983”gumamnya merangkai satu persatu kejadian yang semakin menguatkan dugaan Lee Yoon Sung adalah City Hunter.
Semuanya dipotong dengan kedatangan staf Young Joo, tentunya atas undangan presiden. Staf Young Joo mulai membeberkan kasus yang berkaitan dengan City Hunter.
“Jaksa Kim Young Joo penasaran apakah City Hunter merupakan 2 orang yang berbeda. Lee Jin Pyo dan Lee Yoon Sung”beber staf Young Joo.
Staf Young Joo pun melanjutkan bahwa jaksa Young Joo mendedikasikan dirinya untuk menyelidiki kasus yang berkaitan dengan misi penyapuan bersih tahun 1983 yang melibatkan Lee Jin Pyo yang waktu itu sebagai pengawal presiden.
“Bagaimana dengan Lee Yoon Sung?”tanya Presiden.
“Dan juga tahun 1983 orang tuanya adalah Park Mu Yeol yang juga waktu itu pengawal presiden dan ibunya adalah Lee Kyung Hee”
Mendengar nama Lee Kyung Hee disebut, Presiden terbelalak. “Park Mu Yeol dan Lee Kyung Hee?”gumamnya.
Staf Young Joo juga membeberkan bahwa Lee Yoon Sung diambil dari ibunya saat berumur satu bulan. Presiden syok bukan main.
Yoon Sung melangkah menuju ke ruangan Presiden, dan melewati begitu saja Na Na. Kim Na Na pun berujar bahwa Presiden sepertinya mencium sesuatu hal yang tidak beres, karena dia meminta berkas Yoon Sung secara pribadi.
Yoon Sung tidak berkata apapun, dan melangkah pergi masuk ke ruangan presiden.
Akhirnya keduanya berhadapan lagi setelah mengetahui kenyataan sebenarnya masing-masing. Keduanya saling menatap. Untuk mencairkan suasana, Yoon Sung memilih membicarakan blog Presiden. Yoon Sung disuruh melihatnya, terpampang foto Da Hye yang sungguh cantik.
“Apa kau sudah melihat konferensi pressnya?”tanya presiden yang langsung dibenarkan Yoon Sung.
“Presiden, boleh saya bertanya sesuatu? Isi dari konfrensi press tersebut apa benar?”
“Dan jika benar. Akan ada keputusan yang harus dibuat untuk mencapai posisi ini. Untuk mengatasi semua masalah, tidak mungkin hanya mengandalkan saya. Jadi saya berkerja hanya bertumpu pada 2 hal, kesehatan dan pendidikan”
Dan Presiden pun berencana untuk mempertaruhakan posisinya untuk meloloskan undang-undang mengenai privatisasi sekolah hukum di Parlemen.
“Walaupun dengan menggunakan cara yang salah?” tanya Yoon Sung. Dan Presiden terdiam tak menjawab.
Shik Joong sedang asyik melancarkan aksinya untuk menarik perhatian Eun Ah melalui video conference. Memamerkan bahwa rumah yang kini ditempatinya sudah atas nama dirinya. Shik Joong gelagapan saat melihat Yoon Sung masuk dan langsung mematikan videonya. Dan memberitahukan bahwa Kim Na Na menunggunya di ruangan Yoon Sung,
Keduanya saling berhadapan, akhirnya Na Na membuka mulut terlebih dahulu, "Aku mendengarnya dari bibi, bahwa ayah biologismu adalah Presiden Eung Chan". Kemarahan Na Na tidak terbendung lagi karena Jin Pyo begitu tega menculik Yoon Sung dari ibunya, dan menyembunyikan identitasnya.
"Lee Kyung Hwan, Seo Yong Hak, Kim Jong Shik dan Cheon Jae Man, mereka semua orang korup! Jika tidak aku mungkin sudah memaafkan mereka"potong Yoon Sung.
"Dan bagaimana jika Presiden berlaku korupsi? Apakah kau akan menghabisinya juga?"ujar Na Na sedih.
"Jika dia korupsi...."ucap Yoon Sung yang langsung dipotong oleh Na Na.
"Itu, apakah Lee Yoon Sung juga yang harus melakukan itu? Bukankah dia ayahmu? Bagaimana bisa kau melakukan itu pada ayah kandungmu..."ucap Na Na terpotong
"Jaksa Kim Young Joo juga melakukannya. Karena itu ayahnya, dia mengungkapkan semua kebenarannya"
Na Na berkata pada Yoon Sung kalau sekarang dia adalah pengawal presiden dan dia berharap mereka akan berjumpa lagi tetapi tidak seperti ketika dia menjadi pengawal Seo Yong Hak. Na Na pergi meninggalkan Yoon Sung sendirian.
Yoon Sung menelpon anak buah Jin Pyo. Anak buah Jin Pyo memberi tahu Yoon Sung bahwa anggota partai yang bernama Lee Young Tae yang berada di bawah partai yang sama dengan Presiden tapi secara politik mereka adalah musuh. Anak buah Jin Pyo mengatakan jika tanpa campur tangan dari Lee Young Tae, amandemen tentang privatisasi sekolah hukum akan sangat susah untuk lolos. Lee Yoon Sung menyimpulkan kalau presiden akan menemui Lee Young Tae untuk meloloskan usulannya.
Presiden pergi ke suatu tempat dengan dikawal penjagaan yang ketat. Presiden bertemu dengan Kim Na Na.
"Anda sudah datang Tuan Presiden, semuanya sudah dicek dan sejauh ini belum ada keanehan yang ditemukan"lapor Na Na
"Wakil Lee Young Tae sudah datang menunggu"beritahu Na Na pada Presiden.
Presiden meminta pengawalnya untuk berada dan menunggu di luar. Kepala Pengawal sedikit keberatan dengan permintaan presiden, tapi Presiden meyakinkan kalau tidak akan terjadi apa-apa dan presiden hanya meminta waktu 30 menit. Na Na yang mendengarnya merasa ada yang aneh.
Presiden berbicara pada Lee Young Tae dan meminta bantuan agar Lee Young Tae mau meloloskan amandemen privatisasi sekolah hukum. Lee Young Tae berkata pada presiden tentang imbalan yang didapatnya jika membantu presiden. Presiden mengatakan akan membantu Lee Young Tae menyelesaikan masalahnya dengan Kejaksaan.
Di luar para pengawal presiden sedang berjaga, termasuk Na Na. Ketika Na Na sedang mengecek, Na Na melihat seorang pria berlari menaiki tangga eskalator. Na Na segera mengejar pria tersebut. Kepala Pengawal melihat keanehan Kim Na Na juga segera mengikuti Kim Na Na.
Di dalam Presiden sedang berbicara dengan Lee Young Tae, dan berkata akan membantu menyelesaikan masalah Lee Young Tae terkait dengan kasus Cheon Jae Man. Lee Young Tae mendengar itu menjadi senang dan berjanji untuk membantu Presiden untuk meloloskan amandemennya. Yoon Sung yang mendengar itu dari Lee Young Tae menjadi geram dan marah. Lee Young Tae meninggalkan Presiden sendirian. Presiden menghela nafas.
Yoon Sung datang menemui presiden dari pintu penghubung.
"Mengapa kau ada di sini?"tanya Presiden
"Sepertinya kesepakatan berjalan dengan lancar. Aku tidak pernah berfikir kalau presiden bisa melakukan itu semua"sindir Yoon Sung
"Melakukan pertukaran dengan seorang kongresman demi kesempatan belajar ribuan mahasiswa. Aku tidak akan menyesalinya"ungkap presiden
"Bukankah sebelumnya kau mengatakan menjadi presiden adalah sebuah pengorbanan? Sejak kapan itu semua berubah menjadi penawaran?"tanya Yoon Sung
"Ini semua adalah politik"jawab Presiden
"Dokumen rahasia ada di tanganmu, kalau sebelumnya kau mengatakan tidak akan menyesal dengan keputusanmu, maka aku yang akan membuat kau menyesal dengan keputusanmu. Ini adalah balas dendamku"ujar Yoon Sung pergi dan meninggalkan presiden sendirian.
"Presiden, anda tidak apa-apa?"tanya Kim Na Na yang masuk tiba-tiba.
"Aku baru saja akan pergi"jawab Presiden
"Pengawal Kim Na Na, ada apa?"tanya Kepala pengawal.
"Tidak ada apa-apa, aku hanya khawatir karena sudah 30 menit dan presiden belum keluar juga"ucap Na Na
"Ok, kita harus kembali sekarang"ujar Presiden
Na Na melihat ruangan tersebut dan merasa aneh.
Di dalam mobil, Yoon Sung mendapatkan panggilan dari Kim Na Na, tapi dia tidak menghiraukannya.
Yoon Sung bertemu dengan seorang wartawan, Yoon Sung menanyakan tentang dana kampanye Presiden yang digunakan oleh Presiden Eung Chan. Wartawan tersebut berkata kalau dia tidak mengetahuinya karena presiden Eung Chan selalu mengaturnya sendiri. Wartawan itu berkata kalau presiden Eung Chan pasti memiliki data-datanya.
Di rumah Yoon Sung memikirkan kata-kata wartawan yang ia temui tadi. Dan Yoon Sung yakin kalau data-data tersebut ada di kediaman resmi presiden.
Di Blue House, Shin Eun Ah, Go Ki Joon, dan kepala bagian Yoon Sung membicarakan tentang kematian jaksa Young Joo dan betapa kasihannya Da Hye karena sedih mendengar kabar kematian jaksa Young Joo. Goo Ki Joon mencoba menghibur sekaligus merayu plus mengungkapkan perasaannya pada Shin Eun Ah. Kepala bagian Yoon Sung hanya tersenyum melihat tingkah mereka berdua.
Presiden menelpon wartawan yang ditemui Yoon Sung. Wartawan tersebut berkata pada Presiden kalau orang yang menemuinya mengaku sebagai seorang reporter. Lalu presiden menanyakan pertanyaan yang ditanyakan Yoon Sung, dan presiden memuji wartawan tersebut karena jawaban yang diberikan wartawan tersebut pada Yoon Sung tidak terlalu buruk.
Shin Eun Ah berusaha membujuk Da Hye untuk makan. Tapi Da Hye sama sekali tidak berminat pada makanan yang dibawa Shin Eun Ah.
"Jaksa Kim Young Joo, betapa kasihannya dia."ujar Da Hye tidak bersemangat. Tiba-tiba Da Hye memberikan sebuah bungkusan untuk Shin Eun Ah dan menyuruh Shin Eun Ah untuk memberikannya pada Go Ki Joon. Shin Eun Ah yang mendengar itu kaget.
Di Blue House, Yoon Sung masuk ke dalam kediaman presiden dengan alasan menjadi tutor dari Da Hye. Ketika ada kesempatan Yoon Sung memasuki ruangan pribadi presiden. Presiden yang kebetulan melewati tempat Yoon Sung berada, merasa ada yang aneh (si bapak bisa ngrasain kehadiran anak laki-lakinya..-Mia RF-). Yoon Sun berada dalam ruangan tersebut segera mencari data-data mengenai dana kampanye yang diperoleh presiden.
Di ruangan lain presiden mengambil data-data yang dicari Yoon Sung, dan ternyata data-data tersebut ada di dalam bantal presiden. Presiden mengeluarkannya.
Ketika Yoon Sung sedang mencari data tersebut, presiden muncul membawa buku yang berisikan data tersebut. Yoon Sung kaget mendengar suara presiden.
"Apakah kau mencari ini?"tanya presiden pada Yoon Sung sambil menunjukan buku tersebut.
"Kau sungguh berani, masuk ke dalam kediaman presiden. Kelihatannya kau tidak tahu bagaimana caranya berhenti"lanjut Presiden
"Hentikan, itu tidak cocok untukku"sanggah Yoon Sung dingin
"Aku hanya ingin menanyakan satu hal? Mengapa kau melakukan ini semua?"tanya Presiden
"Untuk kebenaran, untuk warganegara yang memilih dalam pemilihan, untuk bertindak dengan nurani yang baik, untuk melihat keluar tentara yang bergabung untuk melindungi negaranya dan percaya pada negara yang akan melindunginya, untuk universitas dan untuk generasi selanjutnya dan terutama untuk mereka yang meninggal di Nampo Sea demi menyelamatkan negaranya"ucap Yoon Sung
"Selama 20 tahun, tidak pernah aku melupakannya, aku sangat mengerti kesakitan yang Jin Pyo alami"ujar Presiden.
"Ambil ini, ini semua dari ketika aku mulai masuk ke dalam politik"ucap Presiden sambil menyerahkan buku tersebut kepada Yoon Sung.
Yoon Sung segera mengambilnya dan meninggalkan Presiden.
"Yoon Sung-ah"panggil Presiden. Yoon Sung menghentikan langkahnya.
"Telah membuatmu seperti ini, ayah minta maaf"ucap Presiden. Yoon Sung mendengarnya dengan air mata tertahan. Yoon Sung segera pergi.
Yoon Sung melihat buku yang diberikan presiden padanya. Kim Na Na datang dan melihat Yoon Sung sedang duduk sendirian.
Ketika Yoon Sung akan pergi dan berpapasan dengan Na Na.
"Apakah kau akan melakukannya sampai akhir?"tanya Na Na
"Selain aku, tidak akan ada yang akan melakukan semua ini"ucap Yoon Sung, lalu meninggalkan Kim Na Na.
Yoon Sung berada di tempat kerjanya mulai menyiapkan beberapa kopian dari dokumen rahasia dan catatan dana kampanye presiden untuk dipublikasikan. Dengan berat hati Yoon Sung tetap melakukannya.
Di dalam kongres, para dewan sedang membahas tentang amandemen privatisasi sekolah hukum. Para anggota dewan sedang melakukan voting. Yoon Sung mengikuti kongres tersebut melalui komputer di blue house.
Sedangkan di sisi lain, kiriman dari City Hunter sudah mulai tersebar, dan mengakibatkan keramaian.
Presiden mengamati dengan seksana perolehan hasil voting pelolosan amandemen UU mengenai privatisasi sekolah melalui televisi. Hasilnya menunjukkan 228 suara setuju, 41 menentang, dan 4 orang abstain, berarti usaha presiden berhasil. Presiden bersorak senang.
Kim Na Na yang kebetulan menemani persiden tersenyum melihat reaksi presiden.
."Anda pasti sangat senang"kata Kim Na Na
"Ajudan Kim, kudengar kau juga bersusah payah membiayai studimu ya? Kalau saja UU ini disetujui lebih awal tentu hal seperti itu tidak akan terjadi"
Tiba-tiba staf presiden masuk melapor dengan tiba-tiba.
"Ada masalah besar Pak Presiden!"
(pastinya tentang isu yang dilempar ke media oleh Yoon Sung tentang dana ilegal dan penyuapan)
Seperti yang bisa ditebak, isu ini ditebar di media massa.
Kasus ini memberatkan Presiden, anggota dewan/kongres terutama lawan politiknya mengajukan impeachment dan minta Prsiden Choi Eung Chan dicopot dari jabatannya.
Staf presiden melaporkan bahwa dewan telah mengusulkan impeachment kepada presiden
"Maaf saya tidak bisa melindungi Anda"
"Tidak apa-apa tapi di lain pihak saya lebih tenang, harusnya ini belangsung sejak dulu"
Kantor kejaksaan kembali menerima pesan dari city hunter. Kali ini mengenai kasus penyuapan untuk pelolosan UU amandemen sekolah swasta. City hunter rupanya telah menangkap para tersangka penyuapan itu , termasuk banyaknya suap dan foto mereka saat menerima yang suap
Kasus uang melanda presiden dan usulan impeachment terhadap presiden ramai dibicarakan di media massa termasuk televisi.
Di rumah Yoon Sung dan Shik Joong pun menyaksikan berita itu di TV.
"Wah presiden pasti diturunkan"kometnar Shik Joong polos dan negeri ini pasti merasa dikhianati"
Yoon Sung tampak sangat sedih mendengarnya namun berusaha menekan perasaannya. Walau dia pasti telah menyadari konsekuensi itu bakal terjadi pada ayah kandungnya, namun dia saat itu tidak punya pilihan lain untuk tetap konsisten terhadap apa yang telah dijalankan dan dipercayainya (paling ga dia berusaha meneruskan pekerjaan Kim Young Jou..hiks ingat jaksa mati mengenaskan jadi sedih)
Yoon Sung lalu pergi dengan lunglai.
"Kau akan ke mana Yoon Sung"kata Shik Joong (ini si paman ga tau apa Yoon Sung terbebani karena presiden itu ayah kandungnya!)
"Ayah akan segera bergerak"kata Yoon Sung lirih.
Yoon Sung tahu ayah angkatnya Jin Pyo tidak akan puas hanya melihat Cha Eung Chan susah sampai di situ saja.
Dan benar saja di tempat terpisah Jin Pyo sedang menyiapkan peluru dan pistolnya.
Di kantor pengawal presiden, bos Kim Na Na memberitahukan bahwa besok adalah jatah libur bagi Kim Na Na.
"Bersiap-siap saja untuk ditempatkan kembali dan standby karena ada kemungkinan akan dipanggil ke villa"kata bos Kim Na Na
Na Na tak menyadari hal itu karena dia juga punya catatannya, tapi data itu rupanya sudah ada di kalender blue house.
Di lain pihak, Yoon Sung rupanya mengetahui hal itu (atau mungkin Yoon Sung yang mengubah jadwalnya karena dia ga mau berhadapan langsung di lapangan dengan Na Na?) Saat itu Yoon Sung yang tahu jalan pikiran ayah angkatnya pun menyiapkan diri untuk menghadangnya. Dia mulai memasukkan peluru satu per satu ke dalam selongsong pistolnya.
Kim Na Na menyadari akan terjadi hal-hal yang tidak beres, dia pun diam-diam menyiapkan pistolnya.
Jin Pyo menelepon presiden Choi Eung Chan secara langsung
"Sebelum Anda menerima pengadilan dari negara lebih baik Anda menerima pengadilan dariku dulu. Jika Anda tidak ingin jatuh korban bagi orang tak bersalah lebih baik Anda tak menghentikanku!"
Di conference room, Presiden bersiap-siap untuk meeting. Namun presiden memberikan pesan pada Chief Park.
"Sebelum meeting ada orang yang penting bertemu denganku,tolong biarkan dia masuk dan jangan lakukan body chek padanya langsung biarkan saja dia masuk dan tolong biarkan aku sebentar"
"Tapi presiden , saya tidak bisa melakukan itu"
"Tolong lakukan saja, aku ingin menyendiri dan berpikir beberapa saat"
Chief Park tidak punya pilihan kecuali mengikuti kemauan presiden dan keluar. Sebaliknya Na Na secara diam-diam sudah berada blue house mengamati presiden.
Jin Pyo pun tak lama kemudian datang seorang diri. Dia sempat di tahan pengawal di depan pintu, namun chief Park membiarkan langsung masuk.
"Presiden menunggu Anda di dalam"kata chief Park
Jin Pyo memasuki ruangan mencari Choi Eung Chan, namun tak disangka yang ditemuinya di sana adalah Yoon Sung yang berupaya menghadangnya.
"Kau sudah tidak ada urusan lagi di sini"kata Jin Pyo
"Bukankah aku pernah mengatakan bahwa aku akan menghentikan Anda dengan tanganku sendiri", ata Yoon Sung mantap.
"Dendam yang tersimpan selama 28 tahun ini, kamu tidak akan bisa menghentikannya!".
Jin Pyo mulai bergerak mengambil pistolnya, dan pada saat yang sama Yoon Sung pun reflek menarik pistolnya dengan cepat dan akhirya kedua anak dan ayah (angkat) itu saling menodongkan senjatanya satu sama lain.
"Balas dendam yang kejam dengan membunuh ayah kandungku sendiri?? Anda pikir aku bisa bahagia dengan balas dendam ini?"kata Yoon Sung, mereka tetap menodongkan senjata satu sama lain.
Yoon Sung lalu melanjutkan, "Pernah aku tak punya pilihan dan mengacungkan pistol di depan wanita yang aku cintai. Lalu Kau pikir aku sekarang bisa duduk diam saja?".
"Aku setia pada ayah yang kehilangan sebelah kakinya karena aku. Tapi Anda malah pernah mengacungkan pisau (pedang di tongkatnya klo ga salah) padaku. Menurutmu bagaimana (hancurnya) perasaanku waktu itu?"kataYoon Sung sedih (poor Yoon Sung).
"Ku harap Anda mau berpikir bagaimana rasanya menjadi diriku. Tolong hentikan semua ini". “Aku.....hanya ingin hidupku seperti orang normal kembali, dengan ayah hidup bahagia bersama", Yoon Sung mulai berkaca-kaca ( hiks...).
"Tapi rasanya itu semua hanya mimpi", Yoon Sung yang tak tahu lagi harus berbuat apa tiba-tiba nekad mengacungkan pistol ke kepalanya sendiri. Jin Pyo kaget.
"Jika ini memang sudah takdirku, biarlah aku yang mengakhiri semuanya"lanjut Yoon Sung.
Yoon Sung bersiap-siap menekan pelatuknya sambil memejamkan matanya (mungkin juga ngancam, mungkin juga putus asa, dia ga bisa nembak ayahnya angkatnya juga ga bisa membiarkan ayahnya nembak ayah kandungnya).
Tiba-tiba, "Jangan! hentikan!"
Kim Na Na dan presiden datang.
Kim Na Na mengancungkan pistolnya pada Jin Pyo
"Youn Sung sudah hentikan cukup, tolong kamu turunkan pistolmu ..", Kim Na Na yang prihatin dengan hati-hati membujuk Yoon Sung.
Yoon Sung terharu mendengar suara Na Na...
"Aku sudah berjanji untuk menebus nyawa-nyawa yang pernah kau ambil",kata Jin Pyo pada Choi Eung Chan. Choi Eung Chan tak punya pilihan lain kecuali pasrah karena kesalahan yang dulu dia perbuat.
"Ajudan Kim, maafkan aku"kata Eung Chan lalu mendorong jauh Kim Na Na yang melindunginya hingga tersungkur.
Jin Pyo tak ragu mengambil kesempatan itu untuk menembak Choi Eung Chan.
Yoon Sung dalam hitungan 1 detik mengetahui ayah kandungya dalam bahaya, dia langsung lari melompat menghadang peluru dengan badannya. Akhirnya Yoon Sunglah yang tertembak. Dada kirinya tembus sebuah timah panas (ah...).
Presiden dan Na Na kaget.Na Na kontan langsung menembak dada Jin Pyo. Yoon Sung ambruk ke lantai, Na Na langsung menghampiri Yoon Sung dan tersungkur lemas melihat kondisinya
Para pengawal presiden memasuki ruangan mendengar suara tembakan. Mereka mengamankan presiden dan mengacungkan senjata pada Jin Pyo. Jin Pyo rupanya masih kuat bertahan.
Namun Jin Pyo juga rupanya syok, tak menyangka Yoon Sung yang dibesarkannya sampai nekad ingin bunuh diri dan kali ini rela menjadi tameng untuk pelurunya, dan kini terbaring tak berdaya.
Para pengawal mengancam Jin Pyo untuk tidak melawan. Jin Pyo berbalik mengalihkan senjatanya pada Yoon sung sebagai sandera. Na Na hanya terdiam menangis melihat Yoon Sung. Jin Pyo tak punya pilihan lain baginya balas dendam atau mati kayaknya. Namun di akhir hidupnya karena Yoon Sung dia sedikit berpikir lain.
Jin Pyo mengaku pada semua orang di sana bahwa dia adalah satu-satunya orang yang selamat dari operasi penyerbuan (dan penghabisan) tahun 83."Aku adalah Lee Jin Pyo bermaksud membalas dendam untuk atasan dan rekan-rekanku .Demi itu aku sendiri membunuh Lee Kyung Wan dan Cheon Jae Man, juga menculik Kim Jong Sik (ayah Kim Young Joo) dan membuatnya terjatuh, dan aku juga yang mengirim Seo Yong Hak ke kantor pengacara.... Dan akhirnya aku juga harus membunuh Choi Eung Chan. Akulah...City Hunter.!"
Yoon Sung kaget...ayahnya berbohong untuknya, tapi Yoon Sung tidak bisa berkata-kata apa-apa lagi. Na Na juga hanya bisa menangis.
Jin Pyo lalu mengarahkan pistolnya ke arah pengawal presiden dengan sebelumnya sekilat mengosongkan pistolnya. Dan tak ragu lagi para pengawal spontan memberondong Jin Pyo dengan tembakan, Jin Pyo pun roboh dengan banyak luka tembakan di dadanya.
Yoon Sung syok melihat kondisi ayah angkatnya yang roboh bersimbah darah, yang akhirnya memilih mati dan telah berbohong untuknya (Yoon Sung tentunya tidak akan dituduh lagi sebagai city hunter). Kim Na Na yang juga tahu segala tak tega melihat semuanya dan terus menangis.
Lalu Yoon Sung dengan sisa tenaganya berusaha menggapai-gapai tangan ayahnya dengan sedih...Dua orang ayah dan anak (angkat) akhirnya berpegangan tangan bersimbah darah. Tragiss.....kasihan
(Walau tragis mungkin masih lebih beruntung karena tadinya di mimpi Yoon Sung, Yoon Sung dan Kim Na Na yang terbaring bersimbah darah)

Waktu pun telah berlalu...dan aku percaya Yoon Sung dengan hanya satu tembakan di dada kiri akan bisa sembuh.
Da Hye kini terlihat sudah membuka cafe (kedai kopi) sendiri, dia melayani Kim Na Na yang datang ke tempatnya. Na Na tampak masih berduka dia mengenakan pakaian hitam.
"Choi Da Hye brand coffee latte"kata Da Hye menyuguhkan kopi buatannya untuk Na Na dengan busa berbentuk daun yang indah.
"Indah sekali"kata Na Na kagum. "Kau sekarang sudah tampak seperti barista ya" (barista itu semacam bartender tapi untuk kopi, profesi yang dicita-citakan Da Hye).
Rupanya Kim Na Na berduka karena ayahnya yang selama ini terbaring koma di rumah sakit akhirnya meninggal dunia. Da Hye melihat Kim Na Na begitu kecapaian sampai lingkar matanya menghitam. Namun Na Na sendiri tampaknya sudah cukup tabah dan sudah bisa tersenyum lagi.
Tak lama kemudian datanglah pasangan Ki Joon (uri kwang soo...) dan Shin Eun Ah datang berkunjung ke kedai kopi. Mereka berdua punya kabar gembira.
"Kami akan segera menikah", mereka memperlihat undangannya pada Na Na dan Da Hye.
Go Ki Joon tampak begitu senang (duh akhirnya uri Kwang Soo bahagia....)
"Kubilang juga kalian berdua emang cocokkan"kata Da Hye.
Na Na rupanya telah menyatakan keluar dan Blue House dan Yoon Sung setelah kejadian itu nampaknya tak pernah bekerja lagi di Blue House. Ga jelas nih Yoon Sung sebenernya berobat di mana apa mungkin di US?
Shin Eun Ah terlihat sedih dan berkata di Blue House akan bertambah sepi lagi tanpa Na Na.
"Katamu aku cukup berbahagia denganku"potong Go Ki Joon.
Go Ki Joon lalu berkata bila mereka sibuk tak bisa hadir dia akan meng sms-kan no rekeningnya saja (ga mau rugi ga dapet angpau hehe).
Undangan pernikahan Ki Joon dan Eun Ah rupanya sampai juga ke tangan paman Shik Joong. Shik Joong sebenarnya mencintai Eun Ah tampak sedih walau tetap berharap Shin Eun Ah bahagia.
Di rumah Yoon Sung, Lee Kyung Hee dan paman Shik Jong rupanya sudah berkemas untuk bersiap-siap pindah dan menyusul ke US (Yoon Sung sudah terlihat ga ada di sana).
Kyong Hee menerima kiriman bunga dari Choi Eung Chan
Shik Joong bertanya apa isi ucapannya.
"Dia meminta maaf, juga berterimakasih dan berharap aku hidup bahagia"
Shik Joong malah sudah berniat akan membuka lagi kedai ddubboki mama Yoon Sung di US.
"Dan biar makanan korea akan terkenal di Amerika!"tekad Shik Joong.
Para korban operasi penyerbuan tahun 1983 namanya telah dipulihkan dan dimakam mereka berdiri prasasti untuk mengenang kepahlawanan dan pengorbanan mereka demi negara, di sana tercantum nama Lee Jin pyo dan Park Moo Yeul (rupanya Jin Pyo namanya dipulihkan juga).
Na Na juga telah mengemasi barang-barangnya dan siap pergi (ke mana ya atau ke luar kota aja? atau ke US?). Dia berada di bandara (sepertinya). Dia lalu sekilas seperti melihat sosok Yoon Sung. Na Na langsung berlari mencari Yoon Sung tapi tidak ditemukannya.
Ternyata Yoon Sung sudah berada di belakangnya, memakai kemeja hitam yang terlihat pas dan cocok di tubuhnya. Na Na tersenyum senang. Yoon Sung pun tesenyum pada Na Na.Na Na pun tersenyum bahagia bertemu Yoon Sung kembali. Yoon Sung tampak sehat wal afiat dan tetep cakep dan gagah kayak dulu, perfect namja.
Kebahagiaan terpancar dari senyuman dan wajah mereka, yang sulit diuraikan dengan kata-kata (hoho). Kita hanya ikut senang karena Yoon Sung danNa Na akhirnya bersatu kembali.
Yoon Sung pun berkat Jin pyo bisa lolos dari tuduhan tentang city hunter dan dia bisa menikmati hidup normal dengan bebas. City Hunter kita pun bisa melajukan kendaraan mewahnya dengan tenang di tengah kota di malam hari...

=The End=

=Aida Rf=
Akhirnya CH kelar juga, makasi buat author utama yang sudah mengijinkan ikutan nulis . .mpok acie, mpok mia, para sesepuh PD . .dan terutama buat para readers setia PELANGI DRAMA. . .kamsahamnida. ^^

=Asri Rf=
Finally, selesai juga sinopsis City Hunter, diawali dengan adegan yang mengesankan dari sosok Lee Min Ho, dan ending yang tidak terlalu mengecewakan, walau masih terbesit beberapa pertanyaan dari beberapa adegan di City Hunter. Yang paling mengganggu ya siapa yang melepaskan Cheon Jae Man saat di tahan di kejaksaan?? hemm, sampai akhir tidak terjawabkan. Secara keseluruhan bagus namun aku bilang drama City Hunter drama action yang tidak terlalu action, ok sejauh ini tidak menganggu saat saya menonton drama ini. Sempat dipertengahan jalan, merasakan ke-boring-an akan drama ini, cukup beruntung 'diselamatkan' dengan episode-episode terakhir yang cukup mengesankan. Kembali lagi ke selera asal para penonton, jika pecinta Lee Min Ho, maka tidak akan begitu dikecewakan, namun sebagai pembaca setia komik City Hunter yang asli, jangan coba-coba untuk membandingkan keduanya. Yeah, happy reading and happy fasting guys..Mohon Maaf Lahir Batin jika banyak yang dibuat bete abis dengan molornya postingan sinopsis City Hunter..Hahah..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar