Selasa, 14 Februari 2012

city hunter episode 1

[City Hunter Episode 1]
=9 Oktober 1983=
Di sebuah rumah sakit Seoul, seorang wanita sedang berjuang melahirkan tanpa ditemani seorang pun. Sedang jauh di Negara Myanmar, dua orang agen sedang menjalankan tugas menjaga pertemuan Presiden Korea dengan tokoh Myanmar Aung San. Park Moo Yul sang agen dan partnernya Lee Jin Pyo segera berlari mengiringi datangnya sang Presiden.
Tanpa mereka ketahui sebuah bom telah terpasang di tempat pertemuan. Seseorang yang tidak diketahui memencet tombol remote control. Bersamaan dengan lahirnya seorang bayi laki-laki, sebuah bom meledakkan tempat pertemuan tersebut . Kedua agen terkejut bukan main, dan tidak menduga sama sekali. Tempat tersebut bersimbah darah, para pejabat dari kedua belah pihak banyak yang tewas dan terluka tak luput pula orang-orang yang berada di sekitarnya.
Kedua agen melangkah perlahan menuju tempat ledakan, melihat kejadian tanpa rasa percaya.
Sedang ibu sang bayi bersyukur anaknya lahir dengan selamat. Kedua agen menyusuri reruntuhan gedung. Merasa miris.
Di rumah sakit, wanita tersebut syok mendengar berita tentang kejadian di Myanmar. Rupanya agen Park Moo Yul adalah suaminya yang bertugas mengawal presiden bersama partnernya.
Kejadian tersebut memang benar terjadi dimana 9 Oktober 1983 terjadi peledakan saat pertemuan Presiden Korea Selatan dengan tokoh Aung San Su Kyui. Banyak korban dari kedua belah pihak.
5 pejabat Korea Selatan sangat geram melihat kejadian di Myanmar. Di ruangan mereka saling tidak terima dengan kejadian tersebut dan menyalahkan pemerintah Korea Utara bahwa merekalah yang melakukan percobaan pembunuhan terhadap Presiden Korea Selatan.
“Pemerintahan sosialis Myanmar meminta kita hanya mengambil langkah diplomatik!”
“Bagaimana bisa itu dilakukan! Ini mempermalukan bangsa kita!”
“Jadi kita akan menyerang balik, apa kalian setuju?”ucap kepala pemerintahan Choi Eun Chang.
Mendadak semuanya bungkam.
“Baik, kita harus menyerang! Tentu saja kita harus menyerang!”
(Di sini ada ayah Ji Hyun dan ayah Jin Guk, para ahjushi yang selalu main di SBS TV sepertinya)
Kepala Choi Eun Chang memperintahkan kedua agen tersebut untuk menjalankan tugas rahasia.
“Teroris yang melakukan penyerangan di Aung San harus mendapatkan balasannya atas nama ibu pertiwi! Walaupun kemungkinan Presiden tidak akan menyetujuinya”.
Baik Park Moo Yul dan Lee Jin Pyo saling pandang, dan inilah tanggung jawab sebagai agen. Harus bersedia menerima tugas walaupun nyawa taruhannya.
“Di Korea Selatan hanya 5 orang yang mengetahui rencana ini”jelas Choi Eun Chang.
Sebelum menjalankan misinya Moo Yul mengunjungi istrinya di rumah sakit yang baru saja melahirkan. Istrinya lega bahwa suaminya baik-baik saja. Moo Yul sangat bahagia melihat anak laki-lakinya lahir namun dia harus pamit karena harus pergi ke suatu tempat.
“Ah, namanya..aku akan kembali untuk memberi nama anak kita”janji Moo Yul kepada istrinya.
“Bukan tempat yang berbahaya bukan?”
“Tenang saja, aku akan kembali di sampingmu bersama dengan anak kita”. Moo Yul pergi sebelumnya menyentuh pundak istrinya untuk menguatkan.
Istrinya melepas Moo Yul dengan berat hati.
Jin Pyo dan Moo Yul merekrut tim khusus untuk menyertai misi mereka. Ahli bom, ahli kendali jarak jauh, dan orang yang ahli di bidang lainnya.
Bersama keduanya, mereka saling merencanakan penyusupan ke Pyongyang, Korea Utara. Eun Chang mendatangi mereka sebelum pergi melaksanakan tugas.
“Aku sangat bangga kepada kalian. Kalian melakukan ini demi bangsa. Walaupun kalian menempuh jalan berbahaya, pastikan kalian semua melakukan tugas dengan mulus dan segera pulang”ujar Eun Chang menjanjikan kepada tim bahwa mereka akan pulang dengan selamat.
Dengan menyamar sebagai tentara Korea Utara, mereka bersemangat untuk melaksanakan tugas rahasia. Mereka mulai menyusup ke Pyongyang dan harus berkumpul keesokan harinya di pelabuhan Nampo untuk menaiki kapal ke Korea Selatan untuk kembali.
Tim khusus mulai menyerang para petinggi Korea Utara dan membunuh mereka sebagai serangan balasan.
Sedangkan di Korea Selatan, Eun Chang membawa kabar buruk.
“Kita tidak memiliki dukungan, Presiden tidak menyetujui rencana kita. Apa yang harus kita lakukan? Apa yang akan kita lakukan kepada tim yang sudah kita kirim?”tanya Eun Chang kepada keempat orang dihadapannya.

Jin Pyo dan Moo Yul masih berjibaku dengan tugasnya dan saat menyerang salah satu petinggi, Jin Pyo terkena tikaman pisau dari salah satu penjaga. Jin Pyo datang menolong dan menggorok penjaga yang menyerang Moo Yul ,namun Moo Yul terlanjur terluka parah.
Di lain pihak, Eun Chang sedikit panik dengan keadaan yang berubah drastis.
“Kita harus menyerah sekarang dan kita harus perintahkan mereka untuk mundur , kita sudah mengirim kapal selam ke Pelabuhan Nampo“pinta Eun Chang.

Namun kepada kenyataannya anggota lain memutuskan untuk mengorbankan tim khusus agar tidak ada petunjuk apapun mengenai tugas rahasia yang sudah terlanjur mereka jalankan. Namun rupanya Eun Chang tidak sependapat dan bersikeras untuk membawa mereka kembali dengan selamat.
Tim khusus bertemu di pelabuhan Nampo, mereka berenang ke tengah lautan untuk menunggu kapal selam yang akan membawa mereka kembali. Moo Yul yang terluka parah dibawa Jin Pyo. Kapal selam telah tiba, anggota lain segera menuju ke atas dek. Salah satu anggota berhasil menaiki namun tanpa disangka prajurit Korea Selatan (sniper) yang keluar dari kapal selam menembaki mereka.
Jin Pyo dan Moo Yul syok. Jin Pyo mencoba untuk berteriak kepada si penembak bahwa mereka adalah pihak Korea Selatan, dan kenapa mereka ditembaki? Sudah jelas, kelima petinggi Korea Selatan sudah mengambil keputusan untuk menghilangkan bukti. Sigh.
Saat sniper mengarahkan tembakan kepada mereka, Moo Yul langsung menghalangi tubuh Jin Pyo. Moo Yul tertembak demi melindungi Jin Pyo. Di saat terakhir Moo Yul berusaha keras untuk menahan Jin Pyo tetap di bawah air,kapal selam pergi, Moo Yul berpesan untuk menjaga anak dan istrinya.
Betapa marahnya Jin Pyo kepada pihak Korea Selatan, negaranya sendiri yang telah mengkhianatinya.
Eun Chang mendapat kabar bahwa ke 21 prajurit khusus telah tewas. Sepertinya Eun Chang tidak memiliki pilihan banyak untuk menuruti kehendak anggota lainnya. Eun Chang merasa bersalah. Salah satu petinggi memberitahu kepada Eun Chang bahwa semua dokumen telah dimusnahkan. Identitas mereka telah dihancurkan.
“Mulai sekarang, kita berlima harus melupakan kejadian ini”ujar salah satu pejabat.
Meski demikian Eun Chang tidak bisa tenang. Tiba-tiba Jin Pyo muncul dihadapan Eun Chang dengan sebilah pisau di leher Eun Chang.
“Sepertinya kau mengkhianati hati nuranimu”ucap Jin Pyo dengan kemarahan yang teramat sangat.
“Maafkan aku”ucap Eun Chang lirih.
“Maaf? 21 orang di depanku ditembak mati! Aku pikir mereka datang untuk menyelamatkan kami!”
Eun Chang beralasan dia harus menyelamatkan hubungan dengan para sekutu dalam program nuklir dan sebagai gantinya harus melenyapkan tim khusus demi menjaga hubungan baik dengan Korea Utara. Itulah politik!. Hanya demi sebuah politik? Kau tahu kami rela mati demi bangsa namun kami tidak sudi mati demi politik yang hidup demi kekuasaan!”
Eun Chang meminta Jin Pyo untuk membunuhnya. Namun mendadak seseorang mengetuk pintu ruangan dan memotong rencana Jin Pyo untuk membunuh Eun Chang.

Saat Eun Chang kembali, Jin Pyo telah pergi tapi meninggalkan catatan dengan sebilah pisau yang menancap. Mung Chul akan kembali dan mereka semua harus membayar semua apa yang telah mereka lakukan.
Di luar rumah, istri Moo Yul sedang menggendong anaknya. Saat ia berniat untuk menjemur kain, ia meletakkan bayinya di tempat tidur luar. Jin Pyo yang rupanya memperhatikannya dari jauh segera mengambil anak Moo Yul.
Istri Moo Yul merasa ada yang aneh, ia lalu melihat bayinya namun sayang bayinya telah hilang, ia panik setelah membaca pesan yang tertinggal di tempat tidur, istri Moo Yul menangis tak karuan mencari disegala arah. Setelah membawa pesan Mung Chul bahwa dia membawa anaknya pergi.
“Moo Yul telah mati, aku membawa anaknya dan menjaganya. Jangan pikirkan anak ini, hiduplah bahagia. Mulailah dari awal”.
Jin Pyo jelas pergi ke luar Korea Selatan dengan menumpang kapal yang membawa imigran gelap. Lee Yoon Sung, nama anak Moo Yul menangis terus. Seorang wanita Thailand yang kasihan mencoba menenangkan Lee Yoon Sung kecil.

Jin Pyo dihadapan foto Moo Yul dan istrinya, ia pun memberikan nama anaknya dengan nama Lee Min Ho eh Lee Yoon Sung. :)
Aku akan membawa dia dan akan membalas dendam kepada mereka oleh karena itu aku harus bertahan, janji Moo Yul
-10 tahun kemudian di pedalaman Thailand-
Jin Pyo dan Yoon Sung kecil hidup. Membentuk sebuah masyarakat yang menopang hidup mereka bercocok tanam tanaman opium (ini jenis narkoba juga). Bentuknya serbuk, kalau pakai ini bisa kecanduan.

Jin Pyo yang sedang menaiki gajah mendapati laporan bahwa ada anak buahnya yang menjualkan barang-barang mereka secara ilegal. Jin Pyo terlihat sangat marah.
"Aku sudah mengatakan padamu, kau boleh menjualnya di mana pun tapi jangan ke Korea"kata Jin Pyo lalu menembak pria itu tanpa ampun. Sedangkan anak-anak buahnya sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Jin Pyo.
Sementara itu Yoon Sung belajar menembak dari seorang pria asing. Pria itu memberikan pengarahan pada Yoon Sung kecil bagaimana menembak dengan tepat.
Jin Pyo datang menghampiri mereka, ia mengajarkan pelatihan yang keras kepada Yoon Sung kecil. (mian kalo gambar diatas kurang etis, hanya saja ini khusus 21 tahun ke atas, bagi anak-anak yang membaca tolong diarahkan bahwa ini hanya plot drama).
Yoon Sung kecil belajar menembak, dan memamerkan kepada ayahnya, kini Jin Pyo dianggap ayah oleh Yoon Sung. Namun Jin Pyo tidak puas karena Yoon Sung tidak menembak di daerah vital.

Jin Pyo pun menyuruh Yoon Sung untuk berlatih keras hingga tangan-tangannya terluka. Jin Pyo terus menyuruh Yoon Sung untuk tidak berhenti. Yoon Sung dibebankan sebuah misi kelak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar